-REMBULAN DIWAJAHMU-
Oleh: Yabes Ottu
Terimkasih rembulan
Yang menemani dalam kegelapan
Gelapku kau menadah
Engkau tak pernah memilah
Rembulan di wajahmu
Alangkah indah parasmu
Aku ingin memulai
Ingin ku cipta episode pertama
Bahkan aku ingin mengakhiri bersama
Duhai rembulan senja
Sinar wajahmu menerangi gulita
Wahai engkau rembulan senja
Aku mengiringi mu sampai tepi
Aku kagum, ini bukan rayuan
Tapi bukti tertera
Mengertilah rembulan
Tanpa aku harus bicara
Senin, 20 Januari 2020
-SALAHMU JUGA SALAHKU-
Engkau yang merakit
Tapi tak ingin mengakui
Katamu aku yang salah
Menuduh tak ingin mengalah
Nampak bagaikan bayangan
Semua tak menyenangkan
Terdengar konsep
tapi tak terlihat
Semua seolah tak hidup
Kita itu satu
Iya, kamu adalah aku
Salahmu juga salahku
Tapi engkau yang berkuasa
Yang mulia yang mengatur
Dan aku adalah pelaku dan pendengar
Engkau ada
Sehingga akupun ada
Dan akupun ada
Sehingga engkau ada
Aku lahir besar
karena kamu
Dan engkau besar
Karena aku
Tapi salahkah jika aku mengkritk
Aku bukan mengolok
Hanya sekedar petunjuk
Engkau yang merakit
Tapi tak ingin mengakui
Katamu aku yang salah
Menuduh tak ingin mengalah
Nampak bagaikan bayangan
Semua tak menyenangkan
Terdengar konsep
tapi tak terlihat
Semua seolah tak hidup
Kita itu satu
Iya, kamu adalah aku
Salahmu juga salahku
Tapi engkau yang berkuasa
Yang mulia yang mengatur
Dan aku adalah pelaku dan pendengar
Engkau ada
Sehingga akupun ada
Dan akupun ada
Sehingga engkau ada
Aku lahir besar
karena kamu
Dan engkau besar
Karena aku
Tapi salahkah jika aku mengkritk
Aku bukan mengolok
Hanya sekedar petunjuk
-PELUKLAH JIWA KETULUSAN-
Oleh : Yabes Ottu
Tak perlu sedu hati
Tak perlu menangis
Kembalikan rona indahmu
Jangan terbitkan sesal dalam kalbu
Hai sobat kecil, ini dunia bukan surga
Syukuri hidup apa adanya
Lukiskan sakinah dalam sukma
Biarkan sukmamu bergembira
Jangan sesalkan takdir ilahi
Tak boleh kau salahkan dunia ini
Lepaslah luka batin bersama senja
Peluklah jiwa ketulusan
Biarkan nuranimu bersih tak ternoda
Kawan, setiap ingin takkan nyata
Namun harap jangan hilang
Tetaplah menghadap bintang
Jadilah gemilang
Jangan langkah mu tak seirama
Tak perlu merintih
Jangan mengalah
Sebab engkau tak salah
Engkau hanya perlu mencoba
Biarkan fajarmu bercahaya
Taklukan dunia
Biarkan jiwamu megar
Tak boleh terlantar
Peluklah ketulusan
Tetaplah mendekap harapan
Oleh : Yabes Ottu
Tak perlu sedu hati
Tak perlu menangis
Kembalikan rona indahmu
Jangan terbitkan sesal dalam kalbu
Hai sobat kecil, ini dunia bukan surga
Syukuri hidup apa adanya
Lukiskan sakinah dalam sukma
Biarkan sukmamu bergembira
Jangan sesalkan takdir ilahi
Tak boleh kau salahkan dunia ini
Lepaslah luka batin bersama senja
Peluklah jiwa ketulusan
Biarkan nuranimu bersih tak ternoda
Kawan, setiap ingin takkan nyata
Namun harap jangan hilang
Tetaplah menghadap bintang
Jadilah gemilang
Jangan langkah mu tak seirama
Tak perlu merintih
Jangan mengalah
Sebab engkau tak salah
Engkau hanya perlu mencoba
Biarkan fajarmu bercahaya
Taklukan dunia
Biarkan jiwamu megar
Tak boleh terlantar
Peluklah ketulusan
Tetaplah mendekap harapan
RUANG RINDU
Oleh : Yabes Otu
Untuk : Pemilik rindu
Ia hadir di setiap mempi
Rambut hitamnya yang terikat anggun
Bias roman nan indah menawan
Gigi berbaris apik
Bibir tipis merah merona
Hidung mancung
Bola mata yang indah cemerlang
Membuat wajah bundar semakin cantik
Di saat raga tak bersama
Dia menjadi alasan aku merindu
Romannya selalu hadir
Di setiap sudut-sudut
Sepi, ijinkan aku merindu
Biarkan dalam angan memeluknya erat
Lewat udara ku bisikan cinta suci
Dalam penantian aku ingin teguh
Tak ingin mengalah
Wahai angin barat yang silir-semilir
Kemarilah, ingin ku menitip pesan
Katakanlah padanya, aku sangat rindu
Oleh : Yabes Otu
Untuk : Pemilik rindu
Ia hadir di setiap mempi
Rambut hitamnya yang terikat anggun
Bias roman nan indah menawan
Gigi berbaris apik
Bibir tipis merah merona
Hidung mancung
Bola mata yang indah cemerlang
Membuat wajah bundar semakin cantik
Di saat raga tak bersama
Dia menjadi alasan aku merindu
Romannya selalu hadir
Di setiap sudut-sudut
Sepi, ijinkan aku merindu
Biarkan dalam angan memeluknya erat
Lewat udara ku bisikan cinta suci
Dalam penantian aku ingin teguh
Tak ingin mengalah
Wahai angin barat yang silir-semilir
Kemarilah, ingin ku menitip pesan
Katakanlah padanya, aku sangat rindu
-SUNGGUH AKU RINDU-
Oleh : Yabes Ottu
Sungguh aku rindu
Memelukmu erat dalam bayang
Saat mata tak ingin buntu
Tatkala mentari pagi tak lekas pulang
Sungguh aku rindu
Gelebah pun tak ingin pergi
Bagai padang pasir merindu embun
Yang tak kerap menghampiri
Sunguh aku rindu
Mata hati mengelih dalam hampa
Dalam bayang menggengam tanganmu
Mendekapmu erat dalam fatamorgana
Sungguh aku rindu
Cemas dan rindu kembali berbaris padu
Bagai rembulan merindu mentari
Bagai gendang mengharap penari
Sungguh aku rindu
Jemari menari bersama pena
Menghidupkan sebait harapan di atas kertas
Yang berdiri kokoh atas nama cinta
Aku rindu
Sungguh ini kata nuraniku
Bukan nikmat rayu
Oleh : Yabes Ottu
Sungguh aku rindu
Memelukmu erat dalam bayang
Saat mata tak ingin buntu
Tatkala mentari pagi tak lekas pulang
Sungguh aku rindu
Gelebah pun tak ingin pergi
Bagai padang pasir merindu embun
Yang tak kerap menghampiri
Sunguh aku rindu
Mata hati mengelih dalam hampa
Dalam bayang menggengam tanganmu
Mendekapmu erat dalam fatamorgana
Sungguh aku rindu
Cemas dan rindu kembali berbaris padu
Bagai rembulan merindu mentari
Bagai gendang mengharap penari
Sungguh aku rindu
Jemari menari bersama pena
Menghidupkan sebait harapan di atas kertas
Yang berdiri kokoh atas nama cinta
Aku rindu
Sungguh ini kata nuraniku
Bukan nikmat rayu
-MERINDUKAN PELUKAN-
Oleh: Yabes Ottu
Kupang, 11 juli 2019
Dibawah mekar rembulan
Segelas kopi pahit menjadi kawan
Mencoba merenungkan keadaan
Yang kian semakin ada
Sukma mengetuk berdebar
tak keharuan
Mungkin ini tentang pelangi
Yang tak disamping kanan
Bisa saja tentang mawar
Yang tak sempat berada disini
Mencoba melirik bulan
Dia hanya tersenyum tapi tak bersuara
Tak memeri respon
Lagi pada sekawanan bintang
Tapi mereka tak bicara
Hanya menari girang
Menhibur cakrawala
Membuang pandangan pada gegana
Tapi hanya guram
Tak ada isyarat dikelam malam
Pada angin malam yang perlahan-lahan
Tapi hanya menambah dingin
Sungguh ini tentang kesepian
Dan aku merindukan pelukan
Oleh: Yabes Ottu
Kupang, 11 juli 2019
Dibawah mekar rembulan
Segelas kopi pahit menjadi kawan
Mencoba merenungkan keadaan
Yang kian semakin ada
Sukma mengetuk berdebar
tak keharuan
Mungkin ini tentang pelangi
Yang tak disamping kanan
Bisa saja tentang mawar
Yang tak sempat berada disini
Mencoba melirik bulan
Dia hanya tersenyum tapi tak bersuara
Tak memeri respon
Lagi pada sekawanan bintang
Tapi mereka tak bicara
Hanya menari girang
Menhibur cakrawala
Membuang pandangan pada gegana
Tapi hanya guram
Tak ada isyarat dikelam malam
Pada angin malam yang perlahan-lahan
Tapi hanya menambah dingin
Sungguh ini tentang kesepian
Dan aku merindukan pelukan

AKU LELAH
Oleh: Yabes Ottu
Biarkan aku menutup mataku
Dan sejenak terlelap
Hanya untuk sekedar menenangkan hatiku
Dari gejolak rasa yang masih berkisah tentangmu
Biar aku terbenam dalam lelahku
Hanya sekedar mengistirahatkan ingatanku
Yang masih juga tentangmu
Dan biarkan aku menutup mataku sejenak saja
Hanya untuk melihat kembali kenangan yang pernah ada
Tanpa aku harus membuka mata
Karna itu adalah cara satu-satunya
Menenangkan jiwaku
Dari bayang-bayang tentang dirimu
-SANG SAKA MERAH PUTIH-
Oleh: Yabes Ottu
Pusaka merah putih
Adalah gambarang berlakasa darah
Yang mengalir membasahi bunda pertiwi
Demi kelak bahagia anak cucu pribumi
Sang saka
Berkibar mengudara
Karena pahlawan yang gagah perkasa
Walau maut merebut jiwa dan raga
Kain berwarna merah putih
Merupakan kain pembalut bunda pertiwi
Yang sejak lama pertiwi di telanjagi
Serta diludahi
Bahkan di perkosa oleh para penjajah
Tepat tanggal tujuh belas agustus
Sang saka berkibar bebas
Walau tak sedikit darah yang amblas
Oleh para pembunuh bengis
Tiang sejarah
Tetap menopang sang saka merah putih
Jiwa 'jas merah'
Tetap dalam kalbu berdiri kokoh
Kini aku bebas
Karena para pejuang yang berjuang keras
Mengibarkan sang saka di samudra lepas
Melawan amarah arus lautan biru
Oleh: Yabes Ottu
Pusaka merah putih
Adalah gambarang berlakasa darah
Yang mengalir membasahi bunda pertiwi
Demi kelak bahagia anak cucu pribumi
Sang saka
Berkibar mengudara
Karena pahlawan yang gagah perkasa
Walau maut merebut jiwa dan raga
Kain berwarna merah putih
Merupakan kain pembalut bunda pertiwi
Yang sejak lama pertiwi di telanjagi
Serta diludahi
Bahkan di perkosa oleh para penjajah
Tepat tanggal tujuh belas agustus
Sang saka berkibar bebas
Walau tak sedikit darah yang amblas
Oleh para pembunuh bengis
Tiang sejarah
Tetap menopang sang saka merah putih
Jiwa 'jas merah'
Tetap dalam kalbu berdiri kokoh
Kini aku bebas
Karena para pejuang yang berjuang keras
Mengibarkan sang saka di samudra lepas
Melawan amarah arus lautan biru
KITA UNTUK INDONESIA
Oleh: Yabes Ottu
Aku adalah aku
Berdikari tapi tetap tak lupa diri
Sebab aku tahu
Aku tak sendiri
Karna aku bersama mereka disini
Sebagai teman pejuang kiri
Kita indonesia
Tangan kiri mengudara
Bersama teriakan MERDEKA!
Satu suara satu hati
Merdeka akan kita miliki
Ketika kita saling memiliki
Dalam genggaman bunda pertiwi
Salam pancasila
Salam kiri
Adalah sapaan milik kita
Merdeka adalah spirit kita bersama
Oleh: Yabes Ottu
Aku adalah aku
Berdikari tapi tetap tak lupa diri
Sebab aku tahu
Aku tak sendiri
Karna aku bersama mereka disini
Sebagai teman pejuang kiri
Kita indonesia
Tangan kiri mengudara
Bersama teriakan MERDEKA!
Satu suara satu hati
Merdeka akan kita miliki
Ketika kita saling memiliki
Dalam genggaman bunda pertiwi
Salam pancasila
Salam kiri
Adalah sapaan milik kita
Merdeka adalah spirit kita bersama
GORESAN RINDU
Oleh: Yabes Ottu
Di tengah kesepain malam
Di bawah wajah rembulan yang buram
Selepas gerimis
Kembali jemari ingin menulis

Jemari kecil meraba pada meja kecil
Pena sastra nan mungil
Kertas putih yang sedikit menggigil
Siap menggoreskan setitik rindu nan kekal
Dalam bayang aku berimajinasi
Mungkin tentang jelita yang tak disini
Yang tak bersama ku
Namun duduk manis di kalbu ku
Goresan yang ku mulai dengan kata rindu
Kuhiasi kertas kusut bersama kenangan
Ku akhiri dengan ejaan sayang
Walau hanya dalam bayang semu
Kupang, 11 agustus 2019
Oleh: Yabes Ottu
Di tengah kesepain malam
Di bawah wajah rembulan yang buram
Selepas gerimis
Kembali jemari ingin menulis

Jemari kecil meraba pada meja kecil
Pena sastra nan mungil
Kertas putih yang sedikit menggigil
Siap menggoreskan setitik rindu nan kekal
Dalam bayang aku berimajinasi
Mungkin tentang jelita yang tak disini
Yang tak bersama ku
Namun duduk manis di kalbu ku
Goresan yang ku mulai dengan kata rindu
Kuhiasi kertas kusut bersama kenangan
Ku akhiri dengan ejaan sayang
Walau hanya dalam bayang semu
Kupang, 11 agustus 2019
-KEBEBSAN YANG TERTINDAS-
Negeri ku berbahagia dalam kesusahan bebas namun tinggal didalam penindasan
Tak ada kebahagiaan hanya kesedihan
Negeriku bukan milik rakyat
hanya milik kaum elit
Katanya kukuasaan oleh rakyat
Namun milik kamu berduit
Kaum kapitalis
Berlagak nasionalis
Namun tak henti menindas
Menginjak dengan dengan bengis

Proletar menagis menjerit
Marhaen mengorbankan keringat
Namun hasil milik si elit
Tuan puan tak peduli
Kaum lemah semakin tak memiliki
Yang berkuasa semakin jaya
Rakyat kecil tak merdeka
Rumah rakyat menjadi tempat pesta pora
Milik rakyat diambil secara paksa
Bunda pertiwi mereka perkosa
meludahi sang saka merah putih
Indonesia, 17 agustus 2019
Negeri ku berbahagia dalam kesusahan bebas namun tinggal didalam penindasan
Tak ada kebahagiaan hanya kesedihan
Negeriku bukan milik rakyat
hanya milik kaum elit
Katanya kukuasaan oleh rakyat
Namun milik kamu berduit
Kaum kapitalis
Berlagak nasionalis
Namun tak henti menindas
Menginjak dengan dengan bengis

Proletar menagis menjerit
Marhaen mengorbankan keringat
Namun hasil milik si elit
Tuan puan tak peduli
Kaum lemah semakin tak memiliki
Yang berkuasa semakin jaya
Rakyat kecil tak merdeka
Rumah rakyat menjadi tempat pesta pora
Milik rakyat diambil secara paksa
Bunda pertiwi mereka perkosa
meludahi sang saka merah putih
Indonesia, 17 agustus 2019
Rumah kita diobrak-abrik
Pondok kecil rakyat dirampok
Mereka menari lalu mengejek
Tak peduli mereka menginjak
Kita kokoh mereka iri
Mereka membakar lalu sembunyi
Kadang terlihat mereka berlari
Kaum itu tak punya nurani
Kepala mereka hanya penuh dengki
Pemecah belah mengaduk
Sabang menderita merauke diejek
Persaudaraan kita kian sobek
Mulut tak mampu berkata hanya muak
Berdera hitam berkibar
Bukan damai mereka bawa
Namun hadir mereka membakar
Jiwa pemecah adalah akar
Merah putih
Seakan letih
Tiang juang seakan roboh
Mungkin tak lagi kokoh
Bangsa ini rumah kita
Bersama kita merdeka
Kita berteman kokoh karena satu
Rumah kita Indonesia
Bung Ottu
Pondok kecil rakyat dirampok
Mereka menari lalu mengejek
Tak peduli mereka menginjak
Kita kokoh mereka iri
Mereka membakar lalu sembunyi
Kadang terlihat mereka berlari
Kaum itu tak punya nurani
Kepala mereka hanya penuh dengki
Pemecah belah mengaduk
Sabang menderita merauke diejek
Persaudaraan kita kian sobek
Mulut tak mampu berkata hanya muak
Berdera hitam berkibar
Bukan damai mereka bawa
Namun hadir mereka membakar
Jiwa pemecah adalah akar
Merah putih
Seakan letih
Tiang juang seakan roboh
Mungkin tak lagi kokoh
Bangsa ini rumah kita
Bersama kita merdeka
Kita berteman kokoh karena satu
Rumah kita Indonesia
Bung Ottu
GORESAN TANGIS
Oleh: Yabes
Goresan tangis
Tinta pena menetes
Merangkai setiap air mata yang menetes
Sungguh ini tragis
Hilang, dia tak lagi disini
Pupus
Semua telah pergi
Aku cukup terdiam dalam tangis
Dia yang pernah bertakhta dalam kalbu
Telah berlalu bersama senja
Dia yang ku puja
Tak lagi bersamaku
Menangis
Mengingat kenangan manis
Tak lagi seberkas cahaya yang membias
Hanya awan hitam yang membalas
Hanya menagis dan menangis lagi
Hanya terdiam membisu
Namun hati tak membeku
Berharap fajar pagi menyapaku
Bersama dia yang akan kembali
Oleh: Yabes
Goresan tangis
Tinta pena menetes
Merangkai setiap air mata yang menetes
Sungguh ini tragis
Hilang, dia tak lagi disini
Pupus
Semua telah pergi
Aku cukup terdiam dalam tangis
Dia yang pernah bertakhta dalam kalbu
Telah berlalu bersama senja
Dia yang ku puja
Tak lagi bersamaku
Menangis
Mengingat kenangan manis
Tak lagi seberkas cahaya yang membias
Hanya awan hitam yang membalas
Hanya menagis dan menangis lagi
Hanya terdiam membisu
Namun hati tak membeku
Berharap fajar pagi menyapaku
Bersama dia yang akan kembali
SENJA
Oleh : Yabes Ottu
Senja mengunjungi
Disaat semua menjadi sunyi
Canda ramai
Namun seolah sepi
Senja merah
Diujung samudera mata terarah
Berharap dalam ratap
Namun tak ada yang menyapa
Mencoba melambai
Namun tak ada yang peduli
Hanya hempasan ombak yang menemani
Dengarkan aku senja
Aku hanya rindu
Hawa senja
Sampaikan salamku
Oleh : Yabes Ottu
Senja mengunjungi
Disaat semua menjadi sunyi
Canda ramai
Namun seolah sepi
Senja merah
Diujung samudera mata terarah
Berharap dalam ratap
Namun tak ada yang menyapa
Mencoba melambai
Namun tak ada yang peduli
Hanya hempasan ombak yang menemani
Dengarkan aku senja
Aku hanya rindu
Hawa senja
Sampaikan salamku
-PENA PENITIP BISIKAN CINTA-
Oleh:Yabes Ottu
Jejak pena menggoreskan bekas
Namamu tergores pada dinding kertas
Pena sastra melukis jelas
Tentang rasa yang kian membekas
Pena menitip suara hati
Memberikan sebuah arti
Dirimu harus hadir pada hati ini
Menemani aku bersama cinta
Andai saja ku bisa
menjadi titik cinta..
Antara engkau
dan aku,
Menjadi kita.
Ini suara hati
Pena penitip bisikan cinta
Kupang, 23 September 2019
Oleh:Yabes Ottu
Jejak pena menggoreskan bekas
Namamu tergores pada dinding kertas
Pena sastra melukis jelas
Tentang rasa yang kian membekas
Pena menitip suara hati
Memberikan sebuah arti
Dirimu harus hadir pada hati ini
Menemani aku bersama cinta
Andai saja ku bisa
menjadi titik cinta..
Antara engkau
dan aku,
Menjadi kita.
Ini suara hati
Pena penitip bisikan cinta
Kupang, 23 September 2019
"DIBALIK KEGAGALAN MASIH ADA HARAPAN"
oleh :Vhence V.Mauboi

Suatu impian yang ku genggam dan tak ingin dilepaskan.
Seorang perempuan yang terlahir dari keluarga yang sederhana,dengan kehidupan yang begitu berkecukupan, dan hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang tergolong mampu.
Sejak kelas III SD,saya sdh mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta,cita-cita yang begitu melekat dalam diri sejak kecil menjadi seorang pendeta.
Di pagi hari yang cerah waktu liburan kami anggota keluarga duduk dan berceritra,di temani kopi pagi begitu hangat dengan suasana pagi yang begitu cerah.
Ketika ayah bertanya pada saya "apa cita-cita mu nanti?"
Dengan penuh gembira saya menjawab,saya ingin menjadi seorang pendeta,yang berdiri dan memimpin"
Percakapan yang begitu lama dengan canda tawa bersama kedua orang tua,dan keempat saudara saya,
Dan ayah memberikan nasehat "bersekolahlah selagi kami masih mampu memberikan kalian kesempatan untuk bersekolah."
Hari berganti hari bahkan tahun berganti tahun,kini waktu telah mengantar ku pada Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saya mendaftarkan diri pada sebuah sekolah yang terletak di Kabupaten Kupang,SMA Negeri 1 Kupang Tengah.
Setelah di terimah di sekolah tersebut,semua siswa baru di wajibkan mengikuti ujian tes untuk memilih Jurusan,akhirnya saya dinyatakan lulus pada jurusan IPA.
Ketika saya dinyatakn lulus pada jurusan IPA,karena saya mempunyai seorang sahabat Namanya Merry.
Kata merry " Vhen, kamukan mempunyai cita-cita sebagai seorang Pendeta,berarti kamu tidak bisa masuk pada Jurusan IPA.pendeta hanya bisa di terimah kalau siswa itu lulusan bahasa,"
Dengan pemikiran kami yang terbatas,akhirnya saya meminta Kepala Sekolah untuk pindah pada jurusan Bahasa.
Waktu semakin berputar begitu cepat,kini saya telah berada pada tahap Ujian Akhir SMA.Dengan kehidupan yang begitu sederhana namun cita-cita yang ku genggam sejak kecil tak kunjung hilang dari kalbu ku.
Pada Tahun 2017 saya telah menyelesaikan pendidikan SMA,kini waktunya untuk melanjutkan ke perguruan Tinggih.
Ayah bertanya "apakah kamu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi "?
Jawab saya, " Ia,saya mau melanjutkan ke jenjeng pendidikan yang lebih tinggih."
Kata ayah " Kamu harus berpikir lagi,bukan hanya kamu saja yang memerlukan pendidikan,tetapi ingat adik-adik juga memerlukan pendidikan."
"Nak hidup kita begitu sederhana,ayah tidak mampu menyekolahkan mu ke jenjang yang lebih Tinggih."
Begitu mendengarkan kata-kata ini,seakan tak mau menerima apa yang di katakan ayah.Kini apa yang telah di cita-citakan sudah gagal,harapan tak lagi ada,yang ada hanya kekecewaan dalam hati.
Seiring berjalannya waktu,saya mendapatkan informasi tentang sekolah Teologi gratis yang ada di Pulau Jawa.Saat itu juga saya segera mencari informasi dan mendaftar.
Singkat cerita.......
Saya salah satu orang yang dinyatakan lulus.Rasa bahagia datang menghampiri, "akhirnya bisa lulus juga ,baiklah cita-cita hampir sampai."
Berkas-berkas telah dimasukan dan tinggal tungguh waktu untuk berangkat ke Jawa untuk menempu pendidikan selanjutnya.
Ternyata waktu tidak mengijinkan ku untuk pergi dan mengapai cita-cita menjadi seorang Pendeta.
secara tiba-tiba saya sakit,dan harus di operasi karena saya terkena Kista.
Perjalanan kehidupan yang membuat saya Jenuh.
" Tuhan apalagi yang Engkau mau dalam hidup ini,? "Begitu banyak tantangan yang ku lewati seakan hidup tak adil saja bagiku," ( ungkap dalam hati).
Kekecewaan yang sangat besar, dan membuat hati ini tak mau menerima apa yang ada dalam hidup ini,orang tua tidak mengijinkan lagi untk melanjutkan pendidikan di luar daerah,
Tidak ada lagi harapan selain Berdoa.
Perjalanan di batalkan,karena mengidap sakit dan harus di operasi.
Seiring berjalannya waktu,saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, "apa yang Tuhan mau bagi hidup saya ".
Dan ketika itu ada seorang teman saya datang dan memberika Motivasi dan berkata " Mungkin cita-cita mu bukan menjadi seorang Pendeta."
Dan ketika itu saya sadar bahwa melayani Tuhan bukan hanya menjadi seorang Pendeta.
Ketika itu saya di panggil dari pihak gereja untuk melayani Anak-anak PAR dan saya memberi diri untuk melayani.
2017 telah berakhir dan saya mengambil keputusan untuk bekerja di sebuah toko,sambil menungguh Pembukaan penerimaan mahasiswa baru di UNDANA kupang.
Kurang lebih Tiga bulan saya bekerja,akhirnya pembukaan pendaftaran sudah di buka dan saya juga segera mendaftarkan diri.
Tepat tangal 03 Juli 2018 pengumuman hasil,saya dinyatakan Lulus pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dengan demikian saya paham bahwa T
uhan merencanakan sesuatau bukan dari apa yang kita inginkan,tetapi apa yang Tuhan kehendaki,dibalik dari kegagalan yang di hadapi,Tuhan menyiapkan masa depan yang baik buat orang yang bersabar.
TAMAT.........
oleh :Vhence V.Mauboi

Suatu impian yang ku genggam dan tak ingin dilepaskan.
Seorang perempuan yang terlahir dari keluarga yang sederhana,dengan kehidupan yang begitu berkecukupan, dan hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang tergolong mampu.
Sejak kelas III SD,saya sdh mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta,cita-cita yang begitu melekat dalam diri sejak kecil menjadi seorang pendeta.
Di pagi hari yang cerah waktu liburan kami anggota keluarga duduk dan berceritra,di temani kopi pagi begitu hangat dengan suasana pagi yang begitu cerah.
Ketika ayah bertanya pada saya "apa cita-cita mu nanti?"
Dengan penuh gembira saya menjawab,saya ingin menjadi seorang pendeta,yang berdiri dan memimpin"
Percakapan yang begitu lama dengan canda tawa bersama kedua orang tua,dan keempat saudara saya,
Dan ayah memberikan nasehat "bersekolahlah selagi kami masih mampu memberikan kalian kesempatan untuk bersekolah."
Hari berganti hari bahkan tahun berganti tahun,kini waktu telah mengantar ku pada Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saya mendaftarkan diri pada sebuah sekolah yang terletak di Kabupaten Kupang,SMA Negeri 1 Kupang Tengah.
Setelah di terimah di sekolah tersebut,semua siswa baru di wajibkan mengikuti ujian tes untuk memilih Jurusan,akhirnya saya dinyatakan lulus pada jurusan IPA.
Ketika saya dinyatakn lulus pada jurusan IPA,karena saya mempunyai seorang sahabat Namanya Merry.
Kata merry " Vhen, kamukan mempunyai cita-cita sebagai seorang Pendeta,berarti kamu tidak bisa masuk pada Jurusan IPA.pendeta hanya bisa di terimah kalau siswa itu lulusan bahasa,"
Dengan pemikiran kami yang terbatas,akhirnya saya meminta Kepala Sekolah untuk pindah pada jurusan Bahasa.
Waktu semakin berputar begitu cepat,kini saya telah berada pada tahap Ujian Akhir SMA.Dengan kehidupan yang begitu sederhana namun cita-cita yang ku genggam sejak kecil tak kunjung hilang dari kalbu ku.
Pada Tahun 2017 saya telah menyelesaikan pendidikan SMA,kini waktunya untuk melanjutkan ke perguruan Tinggih.
Ayah bertanya "apakah kamu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi "?
Jawab saya, " Ia,saya mau melanjutkan ke jenjeng pendidikan yang lebih tinggih."
Kata ayah " Kamu harus berpikir lagi,bukan hanya kamu saja yang memerlukan pendidikan,tetapi ingat adik-adik juga memerlukan pendidikan."
"Nak hidup kita begitu sederhana,ayah tidak mampu menyekolahkan mu ke jenjang yang lebih Tinggih."
Begitu mendengarkan kata-kata ini,seakan tak mau menerima apa yang di katakan ayah.Kini apa yang telah di cita-citakan sudah gagal,harapan tak lagi ada,yang ada hanya kekecewaan dalam hati.
Seiring berjalannya waktu,saya mendapatkan informasi tentang sekolah Teologi gratis yang ada di Pulau Jawa.Saat itu juga saya segera mencari informasi dan mendaftar.
Singkat cerita.......
Saya salah satu orang yang dinyatakan lulus.Rasa bahagia datang menghampiri, "akhirnya bisa lulus juga ,baiklah cita-cita hampir sampai."
Berkas-berkas telah dimasukan dan tinggal tungguh waktu untuk berangkat ke Jawa untuk menempu pendidikan selanjutnya.
Ternyata waktu tidak mengijinkan ku untuk pergi dan mengapai cita-cita menjadi seorang Pendeta.
secara tiba-tiba saya sakit,dan harus di operasi karena saya terkena Kista.
Perjalanan kehidupan yang membuat saya Jenuh.
" Tuhan apalagi yang Engkau mau dalam hidup ini,? "Begitu banyak tantangan yang ku lewati seakan hidup tak adil saja bagiku," ( ungkap dalam hati).
Kekecewaan yang sangat besar, dan membuat hati ini tak mau menerima apa yang ada dalam hidup ini,orang tua tidak mengijinkan lagi untk melanjutkan pendidikan di luar daerah,
Tidak ada lagi harapan selain Berdoa.
Perjalanan di batalkan,karena mengidap sakit dan harus di operasi.
Seiring berjalannya waktu,saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, "apa yang Tuhan mau bagi hidup saya ".
Dan ketika itu ada seorang teman saya datang dan memberika Motivasi dan berkata " Mungkin cita-cita mu bukan menjadi seorang Pendeta."
Dan ketika itu saya sadar bahwa melayani Tuhan bukan hanya menjadi seorang Pendeta.
Ketika itu saya di panggil dari pihak gereja untuk melayani Anak-anak PAR dan saya memberi diri untuk melayani.
2017 telah berakhir dan saya mengambil keputusan untuk bekerja di sebuah toko,sambil menungguh Pembukaan penerimaan mahasiswa baru di UNDANA kupang.
Kurang lebih Tiga bulan saya bekerja,akhirnya pembukaan pendaftaran sudah di buka dan saya juga segera mendaftarkan diri.
Tepat tangal 03 Juli 2018 pengumuman hasil,saya dinyatakan Lulus pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dengan demikian saya paham bahwa T
uhan merencanakan sesuatau bukan dari apa yang kita inginkan,tetapi apa yang Tuhan kehendaki,dibalik dari kegagalan yang di hadapi,Tuhan menyiapkan masa depan yang baik buat orang yang bersabar.
TAMAT.........
Sabtu, 18 Januari 2020
AKU SEDIH DENGAN KISAH YANG INDAH
Aku sedih dengan ukiran yang indah
Terbuai dalam kehangatan kasih
Hingga akhir menjemput sebagai pemisah
Jiwa yang kuat kini menemui kalah
Aku sedih dengan ukiran yang indah
Cinta dan garis tangan saling menuduh
Hingga kita menemui runtuh
Cerita kini bukan lagi tentang kasih
Aku sedih
dengan ukiran yang indah
Luka yang begitu menusuk
Hingga kita menemui akhir yang lumpuh
Aku sedih
Dengan ukuran yang indah
Yang berhenti hingga tak mempu melangkah
Hingga tenggelam oleh takdir yang pedih
Aku sedih
Dengan ukiran yang indah
Terlampau bahagia hingga menemui bodoh
Hingga tak mampu melawan pisah
Aku sedih dengan ukiran yang indah
Aku hanya menangis meratapi takdir
Bahkan tak lagi mampu berpikir
Kepada senja aku mengadu
Tentang betapa pedihnya hatiku
Tentang takdir yang begitu kejam
Yang memaksa untuk pasrah dalam diam
Kupang, 19 Januari 2019
Langganan:
Postingan (Atom)
-REMBULAN DIWAJAHMU- Oleh: Yabes Ottu Terimkasih rembulan Yang menemani dalam kegelapan Gelapku kau menadah Engkau tak pernah memilah ...



