Senin, 20 Januari 2020

-REMBULAN DIWAJAHMU-
Oleh: Yabes Ottu

Terimkasih rembulan
Yang menemani dalam kegelapan
Gelapku kau menadah
Engkau tak pernah memilah

Rembulan di wajahmu
Alangkah indah parasmu

Aku ingin memulai
Ingin ku cipta episode pertama
Bahkan aku ingin mengakhiri bersama

Duhai rembulan senja
Sinar wajahmu menerangi gulita
Wahai engkau rembulan senja
Aku mengiringi mu sampai tepi

Aku kagum, ini bukan rayuan
Tapi bukti tertera
Mengertilah rembulan
Tanpa aku harus bicara
-SALAHMU JUGA SALAHKU-

Engkau yang merakit
Tapi tak ingin mengakui
Katamu aku yang salah
Menuduh tak ingin mengalah

Nampak bagaikan bayangan
Semua tak menyenangkan

Terdengar konsep
tapi tak terlihat
Semua seolah tak hidup

Kita itu satu
Iya, kamu adalah aku
Salahmu juga salahku
Tapi engkau yang berkuasa
Yang mulia yang mengatur
Dan aku adalah pelaku dan pendengar

Engkau ada
Sehingga akupun ada
Dan akupun ada
Sehingga engkau ada

Aku lahir besar
karena kamu
Dan engkau besar
Karena aku

Tapi salahkah jika aku mengkritk
Aku bukan mengolok
Hanya sekedar petunjuk
-PELUKLAH JIWA KETULUSAN-
Oleh : Yabes Ottu

Tak perlu sedu hati
Tak perlu menangis
Kembalikan rona indahmu
Jangan terbitkan sesal dalam kalbu

Hai sobat kecil, ini dunia bukan surga
Syukuri hidup apa adanya
Lukiskan sakinah dalam sukma
Biarkan sukmamu bergembira

Jangan sesalkan takdir ilahi
Tak boleh kau salahkan dunia ini
Lepaslah luka batin bersama senja
Peluklah jiwa ketulusan
Biarkan nuranimu bersih tak ternoda

Kawan, setiap ingin takkan nyata
Namun harap jangan hilang
Tetaplah menghadap bintang
Jadilah gemilang
Jangan langkah mu tak seirama

Tak perlu merintih
Jangan mengalah
Sebab engkau tak salah
Engkau hanya perlu mencoba

Biarkan fajarmu bercahaya
Taklukan dunia
Biarkan jiwamu megar
Tak boleh terlantar

Peluklah ketulusan
Tetaplah mendekap harapan
RUANG RINDU
Oleh : Yabes Otu
Untuk : Pemilik rindu

Ia hadir di setiap mempi
Rambut hitamnya yang terikat anggun
Bias roman nan indah menawan

Gigi berbaris apik
Bibir tipis merah merona
Hidung mancung
Bola mata yang indah cemerlang
Membuat wajah bundar semakin cantik

Di saat raga tak bersama
Dia menjadi alasan aku merindu
Romannya selalu hadir
Di setiap sudut-sudut

Sepi, ijinkan aku merindu
Biarkan dalam angan memeluknya erat
Lewat udara ku bisikan cinta suci
Dalam penantian aku ingin teguh
Tak ingin mengalah

Wahai angin barat yang silir-semilir
Kemarilah, ingin ku menitip pesan
Katakanlah padanya, aku sangat rindu
-SUNGGUH AKU RINDU-
Oleh : Yabes Ottu

Sungguh aku rindu
Memelukmu erat dalam bayang
Saat mata tak ingin buntu
Tatkala mentari pagi tak lekas pulang

Sungguh aku rindu
Gelebah pun tak ingin pergi
Bagai padang pasir merindu embun
Yang tak kerap menghampiri

Sunguh aku rindu
Mata hati mengelih dalam hampa
Dalam bayang menggengam tanganmu
Mendekapmu erat dalam fatamorgana

Sungguh aku rindu
Cemas dan rindu kembali berbaris padu
Bagai rembulan merindu mentari
Bagai gendang mengharap penari

Sungguh aku rindu
Jemari menari bersama pena
Menghidupkan sebait harapan di atas kertas
Yang berdiri kokoh atas nama cinta

Aku rindu
Sungguh ini kata nuraniku
Bukan nikmat rayu
-MERINDUKAN PELUKAN-
Oleh: Yabes Ottu
Kupang, 11 juli 2019

Dibawah mekar rembulan
Segelas kopi pahit menjadi kawan
Mencoba merenungkan keadaan
Yang kian semakin ada

Sukma mengetuk berdebar
tak keharuan
Mungkin ini tentang pelangi
Yang tak disamping kanan
Bisa saja tentang mawar
Yang tak sempat berada disini

Mencoba melirik bulan
Dia hanya tersenyum tapi tak bersuara
Tak memeri respon

Lagi pada sekawanan bintang
Tapi mereka tak bicara
Hanya menari girang
Menhibur cakrawala

Membuang pandangan pada gegana
Tapi hanya guram
Tak ada isyarat dikelam malam

Pada angin malam yang perlahan-lahan
Tapi hanya menambah dingin
Sungguh ini tentang kesepian
Dan aku merindukan pelukan


AKU LELAH
Oleh: Yabes Ottu

Biarkan aku menutup mataku
Dan sejenak terlelap
Hanya untuk sekedar menenangkan hatiku
Dari gejolak rasa yang masih berkisah tentangmu

Biar aku terbenam dalam lelahku
Hanya sekedar mengistirahatkan ingatanku
Yang masih juga tentangmu

Dan biarkan aku menutup mataku sejenak saja
Hanya untuk melihat kembali kenangan yang pernah ada
Tanpa aku harus membuka mata

Karna itu adalah cara satu-satunya
Menenangkan jiwaku
Dari bayang-bayang tentang dirimu


-SANG SAKA MERAH PUTIH-
Oleh: Yabes Ottu

Pusaka merah putih
Adalah gambarang berlakasa darah
Yang mengalir membasahi bunda pertiwi
Demi kelak bahagia anak cucu pribumi

Sang saka
Berkibar mengudara
Karena pahlawan yang gagah perkasa
Walau maut merebut jiwa dan raga

Kain berwarna merah putih
Merupakan kain pembalut bunda pertiwi
Yang sejak lama pertiwi di telanjagi
Serta diludahi
Bahkan di perkosa oleh para penjajah

Tepat tanggal tujuh belas agustus
Sang saka berkibar bebas
Walau tak sedikit darah yang amblas
Oleh para pembunuh bengis

Tiang sejarah
Tetap menopang sang saka merah putih
Jiwa 'jas merah'
Tetap dalam kalbu berdiri kokoh

Kini aku bebas
Karena para pejuang yang berjuang keras
Mengibarkan sang saka di samudra lepas
Melawan amarah arus lautan biru
KITA UNTUK INDONESIA
Oleh: Yabes Ottu

Aku adalah aku
Berdikari tapi tetap tak lupa diri
Sebab aku tahu
Aku tak sendiri
Karna aku bersama mereka disini
Sebagai teman pejuang kiri

Kita indonesia
Tangan kiri mengudara
Bersama teriakan MERDEKA!

Satu suara satu hati
Merdeka akan kita miliki
Ketika kita saling memiliki
Dalam genggaman bunda pertiwi

Salam pancasila
Salam kiri
Adalah sapaan milik kita
Merdeka adalah spirit kita bersama
GORESAN RINDU
Oleh: Yabes Ottu

Di tengah kesepain malam
Di bawah wajah rembulan yang buram
Selepas gerimis
Kembali jemari ingin menulis

Jemari kecil meraba pada meja kecil
Pena sastra nan mungil
Kertas putih yang sedikit menggigil
Siap menggoreskan setitik rindu nan kekal

Dalam bayang aku berimajinasi
Mungkin tentang jelita yang tak disini
Yang tak bersama ku
Namun duduk manis di kalbu ku

Goresan yang ku mulai dengan kata rindu
Kuhiasi kertas kusut bersama kenangan
Ku akhiri dengan ejaan sayang
Walau hanya dalam bayang semu

Kupang, 11 agustus 2019

-KEBEBSAN YANG TERTINDAS-

Negeri ku berbahagia dalam kesusahan           bebas namun tinggal didalam penindasan
Tak ada kebahagiaan hanya kesedihan

Negeriku bukan milik rakyat
hanya milik kaum elit
Katanya kukuasaan oleh rakyat
Namun milik kamu berduit

Kaum kapitalis
Berlagak nasionalis
Namun tak henti menindas
Menginjak dengan dengan bengis

Proletar menagis menjerit
Marhaen mengorbankan keringat
Namun hasil milik si elit

Tuan puan tak peduli
Kaum lemah semakin tak memiliki
Yang berkuasa semakin jaya
Rakyat kecil tak merdeka

Rumah rakyat menjadi tempat pesta pora
Milik rakyat diambil secara paksa
Bunda pertiwi mereka perkosa
meludahi sang saka merah putih

Indonesia, 17 agustus 2019
Rumah kita diobrak-abrik
Pondok kecil rakyat dirampok
Mereka menari lalu mengejek
Tak peduli mereka menginjak

Kita kokoh mereka iri
Mereka membakar lalu sembunyi
Kadang terlihat mereka berlari

Kaum itu tak punya nurani
Kepala mereka hanya penuh dengki

Pemecah belah mengaduk
Sabang menderita merauke diejek
Persaudaraan kita kian sobek
Mulut tak mampu berkata hanya muak

Berdera hitam berkibar
Bukan damai mereka bawa
Namun hadir mereka membakar
Jiwa pemecah adalah akar

Merah putih
Seakan letih
Tiang juang seakan roboh
Mungkin tak lagi kokoh

Bangsa ini rumah kita
Bersama kita merdeka
Kita berteman kokoh karena satu
Rumah kita Indonesia

 Bung Ottu
GORESAN TANGIS

Oleh: Yabes

Goresan tangis
Tinta pena menetes
Merangkai setiap air mata yang menetes
Sungguh ini tragis

Hilang, dia tak lagi disini
Pupus
Semua telah pergi
Aku cukup terdiam dalam tangis

Dia yang pernah bertakhta dalam kalbu
Telah berlalu bersama senja
Dia yang ku puja
Tak lagi bersamaku

Menangis
Mengingat kenangan manis
Tak lagi seberkas cahaya yang membias
Hanya awan hitam yang membalas

Hanya menagis dan menangis lagi
Hanya terdiam membisu
Namun hati tak membeku
Berharap fajar pagi menyapaku
Bersama dia yang akan kembali

SENJA


Oleh : Yabes Ottu

Senja mengunjungi
Disaat semua menjadi sunyi
Canda ramai
Namun seolah sepi

Senja merah
Diujung samudera mata terarah
Berharap dalam ratap
Namun tak ada yang menyapa

Mencoba melambai
Namun tak ada yang peduli
Hanya hempasan ombak yang menemani

Dengarkan aku senja
Aku hanya rindu
Hawa senja
Sampaikan salamku
-PENA PENITIP BISIKAN CINTA-
Oleh:Yabes Ottu

Jejak pena menggoreskan bekas
Namamu tergores pada dinding kertas

Pena sastra melukis jelas
Tentang rasa yang kian membekas

Pena menitip suara hati
Memberikan sebuah arti

Dirimu harus hadir pada hati ini
Menemani aku bersama cinta

Andai saja ku bisa
menjadi titik cinta..

Antara engkau
dan aku,
Menjadi kita.

Ini suara hati
Pena penitip bisikan cinta

Kupang,  23 September 2019
"DIBALIK KEGAGALAN MASIH ADA HARAPAN"

oleh :Vhence V.Mauboi




Suatu impian yang ku genggam dan tak ingin dilepaskan.
  Seorang perempuan yang terlahir dari keluarga yang sederhana,dengan kehidupan yang begitu berkecukupan, dan hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang tergolong mampu.

Sejak kelas III SD,saya sdh mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta,cita-cita yang begitu melekat dalam diri sejak kecil menjadi seorang pendeta.

Di pagi hari yang cerah waktu liburan kami anggota keluarga duduk dan berceritra,di temani kopi pagi begitu hangat dengan suasana pagi yang begitu cerah.

Ketika ayah bertanya pada saya "apa cita-cita mu nanti?"

Dengan penuh gembira saya menjawab,saya ingin menjadi seorang pendeta,yang berdiri dan memimpin"

Percakapan yang begitu lama dengan canda tawa bersama kedua orang tua,dan keempat saudara saya,
Dan ayah memberikan nasehat "bersekolahlah selagi kami masih mampu memberikan kalian kesempatan untuk bersekolah."

  Hari berganti hari bahkan tahun berganti tahun,kini waktu telah mengantar ku pada Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saya mendaftarkan diri pada sebuah sekolah yang terletak di Kabupaten Kupang,SMA Negeri 1 Kupang Tengah.

Setelah di terimah di sekolah tersebut,semua siswa baru di wajibkan mengikuti ujian tes untuk memilih Jurusan,akhirnya saya dinyatakan lulus pada jurusan IPA.

Ketika saya dinyatakn lulus pada jurusan IPA,karena saya mempunyai seorang sahabat Namanya Merry.

Kata merry " Vhen, kamukan mempunyai cita-cita sebagai seorang Pendeta,berarti kamu tidak bisa masuk pada Jurusan IPA.pendeta hanya bisa di terimah kalau siswa itu lulusan bahasa,"
Dengan pemikiran kami yang terbatas,akhirnya saya meminta Kepala Sekolah untuk pindah pada jurusan Bahasa.

Waktu semakin berputar begitu cepat,kini saya telah berada pada tahap Ujian Akhir SMA.Dengan kehidupan yang begitu sederhana namun cita-cita yang ku genggam sejak kecil tak kunjung hilang dari kalbu ku.

Pada Tahun 2017 saya telah menyelesaikan pendidikan SMA,kini waktunya untuk melanjutkan ke perguruan Tinggih.

Ayah bertanya "apakah kamu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi "?

Jawab saya, " Ia,saya mau melanjutkan ke jenjeng pendidikan yang lebih tinggih."

Kata ayah " Kamu harus berpikir lagi,bukan hanya kamu saja yang memerlukan pendidikan,tetapi ingat adik-adik juga memerlukan pendidikan."
"Nak hidup kita begitu sederhana,ayah tidak mampu menyekolahkan mu ke jenjang yang lebih Tinggih."

Begitu mendengarkan kata-kata ini,seakan tak mau menerima apa yang di katakan ayah.Kini apa yang telah di cita-citakan sudah gagal,harapan tak lagi ada,yang ada hanya kekecewaan dalam hati.

Seiring berjalannya waktu,saya mendapatkan informasi tentang sekolah Teologi gratis yang ada di Pulau Jawa.Saat itu juga saya segera mencari informasi dan mendaftar.

    Singkat cerita.......

Saya salah satu orang yang dinyatakan lulus.Rasa  bahagia datang menghampiri, "akhirnya bisa lulus juga ,baiklah cita-cita hampir sampai."

Berkas-berkas telah dimasukan dan tinggal tungguh waktu untuk berangkat ke Jawa untuk menempu pendidikan selanjutnya.
Ternyata waktu tidak mengijinkan ku untuk pergi dan mengapai cita-cita menjadi seorang Pendeta.

secara tiba-tiba saya sakit,dan harus di operasi karena saya terkena Kista.
Perjalanan kehidupan yang membuat saya Jenuh.
" Tuhan apalagi yang Engkau mau dalam hidup ini,? "Begitu banyak tantangan yang ku lewati seakan hidup tak adil saja bagiku," ( ungkap dalam hati).

Kekecewaan yang sangat besar, dan membuat hati ini tak mau menerima apa yang ada dalam hidup ini,orang tua tidak mengijinkan lagi untk melanjutkan pendidikan di luar daerah,
Tidak ada lagi harapan selain Berdoa.
Perjalanan di batalkan,karena mengidap sakit dan harus di operasi.

Seiring berjalannya waktu,saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, "apa yang Tuhan mau bagi hidup saya ".
Dan ketika itu ada seorang teman saya datang dan memberika  Motivasi dan berkata " Mungkin cita-cita mu bukan menjadi seorang Pendeta."

Dan ketika itu saya sadar bahwa melayani Tuhan bukan hanya menjadi seorang Pendeta.
Ketika itu saya di panggil dari pihak gereja untuk melayani Anak-anak PAR dan saya memberi diri untuk melayani.

2017 telah berakhir dan saya mengambil keputusan untuk bekerja di sebuah toko,sambil menungguh Pembukaan penerimaan mahasiswa baru di UNDANA kupang.

Kurang lebih Tiga bulan saya bekerja,akhirnya pembukaan pendaftaran sudah di buka dan saya juga segera mendaftarkan diri.
Tepat tangal 03 Juli 2018 pengumuman hasil,saya dinyatakan Lulus pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Dengan demikian saya paham bahwa T
uhan merencanakan sesuatau bukan dari apa yang kita inginkan,tetapi apa yang Tuhan kehendaki,dibalik dari kegagalan yang di hadapi,Tuhan menyiapkan masa depan yang baik buat orang yang bersabar.

   TAMAT.........

Sabtu, 18 Januari 2020



AKU SEDIH DENGAN KISAH YANG INDAH



Oleh: Yabes Ottu

Aku sedih dengan ukiran yang indah
Terbuai dalam kehangatan kasih
Hingga akhir menjemput sebagai pemisah
Jiwa yang kuat kini menemui kalah

Aku sedih dengan ukiran yang indah
Cinta dan garis tangan saling menuduh
Hingga kita menemui runtuh
Cerita kini bukan lagi tentang kasih

Aku sedih
dengan ukiran yang indah
Luka yang begitu menusuk
Hingga kita menemui akhir yang lumpuh

Aku sedih
Dengan ukuran yang indah
Yang berhenti hingga tak mempu melangkah
Hingga tenggelam oleh takdir yang pedih

Aku sedih
Dengan ukiran yang indah
Terlampau bahagia hingga menemui bodoh
Hingga tak mampu melawan pisah

Aku sedih dengan ukiran yang indah
Aku hanya menangis meratapi takdir
Bahkan tak lagi mampu berpikir

Kepada senja aku mengadu
Tentang betapa pedihnya hatiku
Tentang takdir yang begitu kejam
Yang memaksa untuk pasrah dalam diam

Kupang, 19 Januari 2019

-REMBULAN DIWAJAHMU- Oleh: Yabes Ottu Terimkasih rembulan Yang menemani dalam kegelapan Gelapku kau menadah Engkau tak pernah memilah ...